Sejarah Kisah Kelahiran RAJA SISINGAMANGARAJA

Sejarah Kisah Kelahiran RAJA SISINGAMANGARAJA

Jauh sebelum masa lahirnya Raja Sisingamangaraja, umumnya di seantero dunia khususnya di daerah tanah Batak pada waktu itu sebahagian besar penduduknya sudah banyak yang mendurhaka kepada Tuhan Mulajadi Nabolon, antara lain kepincangan-kepincangan dalam dalam menjalankan hukum (paradaton), hukum yang tidak adil (sungsang paruhuman) sehingga manusia banyak menempuh jalan kesesatan. Hal ini di sebabkan karena banyaknya orang-orang luar masuk ke tanah Batak yang merusak peraturan-peraturan (manaburhon patik naso hasea), yang sebelumnya seluruh peraturan-peraturan (patik) sangat di taati oleh penduduk disana. Sehinggga akibat dari pelanggaran patik-patik tersebut, maka Tuhan Mulajadi Nabolon mendatangkan bala (balasan) atas kedurhakaan umat tersebut, dimana banyaklah terasa bagi penduduk kesulitan dan gangguan-gangguan di tambah dengan makanan yang serba tidak ada (masa haleon) Tapi rupanya ditengah-tengah banyaknya ummat yang durhaka itu, ada seorang yang masih bersih jiwanya, taat kepada Tuhan Mulajadi Nabolon, dia adalah seorang dari turunan (pomparan) ni Siraja Oloan yang bernama : RAJA BONA NIONAN. Di suatu ketika Raja Bona Nionan di datangi oleh seorang pesuruh Tuhan Mulajadi Nabolon (Gading Habonaran) seraya dia berkata: “Hai Bona Nionan! Nenekmu Siraja Parmahan turun ke tanah Batak Laut Tawar ini, dulunya adalah karena suruhan Mulajadi Nabolon.


Sekarang Tuhan Mulajadi Nabolon mendatangkan/menyuruh seorang puteri cantik (boru namauli bulung) turun ke tanah Batak ini dan berada sekarang di puncak gunung sakti (Dolok Pusuk Buhit). Oleh karena itu berangkatlah engkau kesana untuk mendapatkan puteri cantik itu. Raja Bona Nionan pun memohon terimakasih kepada pesuruh Tuhan tersebut, dan langsunglah dia berangkat ke arah Dolok Pusuk Buhit tempat puteri cantik itu berada. Hari keberangkatannya itu di catat dalam buku Pustaha Tumbaga Holing pada tanggal 20 (singkora duapuluh), dan sampailah dia di puncak dolok pusuk buhit pada tanggal 21 (samirasa maraturun). Ternyata apa yang di katakan malaikat itu benar-benar terjadi, setelah ia sampai di puncak Dolok Pusuk Buhit, dia melihat seorang puteri cantik yang sudah berada di sana, dan kemudian puteri itu berkata kepada Raja Bona Nionan: “Saya datang kemari adalah atas utusan Tuhan Mulajadi Nabolon untuk melaksanakan perintahnya agar engkau mempersunting saya sebagai isterimu, maka oleh sebab itu saya berharap engkau menerima dan tidak menyianyiakan saya.


Mendengar uraian dari puteri cantik itu, maka Bona Nionan pun menjawab: “Saya ini adalah seorang manusia yang hina dan juga buruk rupa, tapi Tuhan Mulajadi Nabolon mengutus seorang puteri cantik untuk saya persunting, apakah saya ini pantas untuk mempersunting engkau yang begitu cantik dan mulia? Lantas sang puteri menjawab :” Engkau di hunjuk oleh Tuhan Mulajadi Nabolon menjadi suamiku bukan karena rupa dan segala apa yang engakau miliki, tetapi karena kelurusan itikad dan ketaatanmu kepada Tuhan Mulajadi Nabolon maka untuk engkau tidak usah berpikir panjang lagi dan saya kita sekarang berangkat. Mendengar jawaban demikian maka Raja Bona Nionan pun tidak dapat berkata apa-apa lagi, selain menuruti ajakan dari puteri tersebut. Tetapi di saat sebelum berangkat, puteri cantik itu bertanya satu hal lagi kepada Raja Bona Nionan :”wahai calon suamiku, saya tahu di daerah tanah Batak ini sungguh kurang baik orang yang tak mempunyai suku (marga) maka seandainya di tengah perjalanan nanti ada yang menanyakan kita mengenai marga saya, maka marga apa yang akan kita sebutkan? Baiklah kata Raja Bona Nionan jika ada yang bertanya demikian maka kita jawab saja bahwa engkau adalah boru dari marga sagala (boru sagala limbong) dan kita tetapkan itulah untuk seterusnya. Lantas mereka pun berangkat menuju ke tempat orang tua Raja Bona Nionan yaitu kampung Bakkara.


Sesampainya mereka disana, orang tua Bona Nionan yaitu TOGA SINAMBELA melihat perempuan yang dibawa oleh Raja Bona Nionan. Orang tuanya tersebut terkejut bercampur heran karena anaknya telah membawa seorang puteri. Lantas ia menanyakan anaknya Raja Bona Nionan: Siapakah puteri kawan ananda yang datang ini? Raja Bona Nionan menjawab itu adalah isteri saya dan menantu dari ayahanda. Toga sinambela pun berkata: Baiklah kalau memang demikian, saya berharap kalian tinggal dan menetaplah di kampung kita ini. Namun berbeda dengan apa yang di harapkan dan diniatkan oleh Toga Sinambela kepada anak itu, hanya sebulan dia hidup bersama dengan sang isteri di kampung bakkara (kampung orang tuanya), pada tanggal 21 (samsara mara turun) Raja Bona Nionan kembali pergi merantau meninggalkan sang isteri. Di melintasi kampung demi kampung hingga pada suatu waktu di sampai di sebuaah perkampungan yang bernama NARUMONDA (sebuah desa di kecamatan porsea). Setelah beberapa tahun di Narumonda, dia menikah dengan seorang putri Raja Marpaung (yang menjadi isteri keduanya). Raja marpaung menikahkannya dengan putrinya atas jasanya mendatangkan hujan. Sebelum raja Bona Nionan datang ke Narumonda, rakyat selalu mengeluh, menderita terhadap musim kemarau panjang, yang menyebabkan sawah kering kerontang dan menimbulkan masa paceklik (Haleon potir) yang berkepanjangan di kampung itu. Kembali ke cerita….Sementara itu keadaan sang isteri yang ditinggal di bakkara tetap tenang, isterinya begitu sabar menunggu kembalinya raja Bona Nionan yang telah bertahun-tahun tak pulang. Sang isteri yang di tinggal itu pun pada suatu malam bermimpi: Dia berjalan ditengah-tengah lautan luas, sambil menjungjung sebuah cawan putih yang berisikan air limau (Uras), limah putih (anggir putih) air bersih (mual na hona saring), di mana semua benda yang ada di dalam cawan tersebut nampak bercahaya (marsinondang), sambil terlihat di pinggir cawan tersebut sebuah tulisan dalam bahasa batak “BORAS NI ROHA”. Laut yang dijalaninya itu terlihat dengan 5 (lima) warna yaitu : kuning (na hunik), merah (narara), putih (nabontar), hitam (nabirong), cemerlang (na tio), dia berjalan di atas laut seperti berjalan di atas tanah yang keras.


Masih dalam keadaan bermimpi sang puteri mendengar lagi sebuah suara yang datang dari sebuah puncak gunung yang sangat tinggi: “ Datanglah engkau wahai sang puteri kesanyangan keatas puncak gunung ini dari tengah-tengah lautan itu agar engkau mengerti apa makna lautan yang engakau jalani ini”, maka sang puteri pun dalam mimpinya menaiki bukit tersebut sampai ke puncaknya. Setelah tiba diatas dia mendengar suara lagi :”akulah dulu yang menyuruh engkau naik ke puncak Gunung Sakti Pusuk Buhit, supaya engkau bisa bertemu dengan Raja Bona Nionan” mendengar suara itu puteri pun langsung berlutut dan menyembah kepada yang berbicara tersebut. Lantas suara itu berkata kembali : “adapun arti dari 5 warna laut yang engkau jalani itu adalah: Tempat manusia dibumi ini adalah 5 huta atau 5 tempat (benua) Marga yang ada terdiri dari lima marga besar (persukuan) Dan lima pembagian waktu dalam satu hari sampai terbenam matahari tidak boleh ditambahi, yaitu sogot, pangului, hos, guling, dan bot Nanti suatu ketika, engkau pasti berada di kampung itu, dan kau akan melihat sekalipun di suatu tempat tidak pernah tumbuh mata air, tapi disaat itu tanahnya akan pecah dan akan muncul mata air (mual na tio). Kemudian Debata Mulajadi Nabolon berkata lagi dalam mimpi puteri itu: “Besok persis di saat waktu tengah hari engkau harus datang ke satu tempat yaitu rimba (harangan sulu-sulu). Di situ ada satu buah batu yang bernama “Batu Sindar Mataniari ” di sebuah mata air yaitu Mual mani huruk di harangan sulu-sulu, engkau harus sampai ketempat tersebut, agar aku dapat menyampaikan tugas untukmu dan juga kesaktian.. Dan secara tiba-tiba putri tersentak dan terbagun dari mimpinya tersebut. Saat dia bermimpi tepatnya pada tanggal 20 (sikkora dua pulu) dan besoknya tanggal 21 (samisara moraturun) di bulan tujuh (sipaha pitu).

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar